4 Rekomendasi Novel tentang Perempuan Indonesia, Spesial Hari Kartini

Kartini bercita-cita menjadi bidan tapi justru meninggal karena masalah reproduksi.

Itu bunyi QRT dari mbak Kalis Mardiasih yang aku baca di Twitter kemarin. Ini fakta menarik karena selama ini Ibu Kartini yang kita tahu adalah pejuang kesetaraan pendidikan perempuan yang ternyata juga memiliki harapan lain untuk kaumnya. Nah, karena itu aku jadi kepikiran nulis rekomendasi buku perjuangan perempuan, spesial memperingati Hari Kartini. Rekomendasi yang aku tulis kali ini adalah novel atau buku yang pernah kubaca dan semuanya memiliki satu benang merah yang sama, yaitu menyuarakan sisi lain dari perempuan dan kesemuanya berlatar belakang di Jawa. Kira-kira buku apa aja? Check this out:


`1. Entrok

This image has an empty alt attribute; its file name is entrok.jpg

sumber: goodreads.com

Plot

Novel ini menceritakan kegigihan perempuan melawan ketidakadilan yang digambarkan salah satunya melalui sosok Marni. Marni yang mulai beranjak remaja ingin sekali membeli entrok atau BH, yang pada masa itu dianggap barang berharga dan tidak semua orang mampu membelinya. Berkat tekadnya yang kuat, ia nekat melawan aturan pakem di masyarakat: yaitu bekerja keras menjadi kuli kupas singkong, yang biasa dilakukan laki-laki. Kegigihan Marni tidak berhenti disitu, lambat laun ia dikenal sebagai pedagang yang cukup sukses di kampungnya namun anggapan miring tetangga akan kekayaan Marni yang dulunya pernah kere mulai bermunculan—kelak menjadi sumber konflik dengan anaknya yang tumbuh di lingkungan agamis. Di balik kesuksesannya, Marni pelan-pelan mulai tercekik dengan adanya aturan uang kemanan yang diminta negara dan aparat di tempatnya berjualan. Marni dan Rahayu sang anak, sama-sama menjadi korban di tengah lingkungan yang represif terhadap perempuan. Pelecehan, perkosaan oleh penguasa bukan hal tabu yang ditemui di novel ini.

Opini

Menurutku novel besutan Okky Madasari ini salah satu novel yang sarat kebudayaan dan nilai sosial. Aku suka cara beliau menyusun premis patriarkal yang dibalut konflik kepercayaan dan sinisme antar perempuan. Rahayu malu dengan ibunya yang dianggap tidak beragama karena bertuhan dengan caranya sendiri, menyembah leluhur Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa. Sedangkan Rahayu yang rasional, berpendidikan, dan agamis justru bersedia menjadi istri kedua yang dalam pandangan ibunya sama halnya dengan seorang wanita penggoda. Kebencian antar perempuan yang justru ibu dan anak ini membuat alur cerita semakin hidup, apalagi mereka berdua adalah korban penindasan itu sendiri. Dilansir melalui akun blog pribadi Okky Madasari, entrok sebagai judul cerita melambangkan simbol keterkungkungan dan perlawanan perempuan atas setiap ketidakadilan yang mereka alami. Menurutku ini terlihat jelas dari cara Okky menggunakan judul “entrok” dengan ilustrasi perempuan hendak memakai bra di cover bukunya, objektifikasi benda milik perempuan yang dianggap saru justru dijadikan center of attention dan menjadi twist dalam novel ini.

Rating: 4,5 out of 5 ⭐

“Bukan masalah kuat-nggak kuat, Nduk. Ini masalah ilok-ra ilok—pantas-nggak pantas. Nggak ada perempuan yang nguli,” Simbok, hlm. 35.


2. Gadis Pantai

This image has an empty alt attribute; its file name is gadis-pantai.jpg
http://jualbukusurabaya.blogspot.com/

Plot

Gadis Pantai menceritakan seorang gadis berumur 14 tahun yang tinggal di pesisir pantai di Jawa Tengah. Gadis ini digambarkan sebagai sosok yang tumbuh dalam kondisi miskin dan tidak berpendidikan. Suatu hari “seorang pembesar” yang bekerja pada Belanda datang kepadanya dan hendak membawanya ke kota. Dianggap sebagai “takdir baik” daripada harus menikah dengan pemuda kampungnya dan meneruskan hidup di bawah garis kemiskinan, gadis ini pun menurut. Sesampainya di kota Gadis Pantai yang ketakutan mulai dijamu dengan fasilitas di rumah sang “Bendoro” tapi lambat laut ia menjadi jarang di rumah. Sekali waktu Gadis Pantai bertanya apakah gerangan yang dilakukan suaminya sehingga tidak pernah pulang, tapi tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Justru ia diusir dari rumah sang pembesar itu.

Opini

Pramoedya Ananta Toer selalu terkenal dengan karya-karyanya yang mengkritisi feodalisme Jawa, salah satunya novel ini. Sebutan Mas Nganten ini sejatinya melecehkan, karena disematkan kepada seorang gundik atau pemuas nafsu belaka orang-orang penguasa sebelum akhirnya menikah dengan wanita lain yang dianggap sederajat. Tapi “sang pembesar” membuatnya seolah-olah si gadis pantai harus bersyukur dan beruntung, gadis kampung sepertinya telah ia pilih. Ironi ini juga digambarkan saat warga kampung tempat gadis pantai tinggal menganggap kepergiannya ke kota menjadi istri sementara penguasa adalah sebuah pencapaian. Menurutku novel ini salah satu dari semua buku Pram yang must-read. Gadis Pantai merepresentasikan ketidakberdayaan perempuan dan sayangnya tidak ada resolusi yang disampaikan. Konon, novel ini harusnya berbentuk trilogi tapi tidak selesai karena keburu diberangus pemerintah pada masa itu. Meskipun tata bahasanya menggunakan istilah-istilah cukup asing, seperti sahaya, bendoro, kanca, tapi alurnya masih sangat enjoyable untuk dibaca.

Rating: 4 out of 5 ⭐

“Orang kampung seperti sahaya ini, bendoro muda, kelahirannya sendiri sudah suatu kecelakaan. Tak ada sesuatu yang lebih celaka dari nasib orang kampung.”

3. Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

This image has an empty alt attribute; its file name is perempuan.jpg
sumber: goodreads.com

Plot

Buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer adalah buku Pramoedya Ananta Toer selanjutnya, berisi catatan derita perempuan Indonesia yang dijadikan budak seks pada masa penjajahan Jepang. Catatan ini dihimpun berdasarkan pengalaman dan keterangan teman-temannya yang sama-sama dibuang di Pulau Buru, dimana ia diasingkan. Pada masa itu gadis-gadis yang beranjak dewasa mulai didatangi oleh balatentara Jepang, orangtuanya dirayu dan dibujuk untuk menyerahkan anak gadisnya dengan iming-iming akan disekolahkan dengan layak bahkan dijanjikan hingga ke Tokyo. Namun apa daya, setelah jatuh di tangan Jepang mereka justru dijadikan jugun ianfu dan dipaksa melayani nafsu balatentara itu.

Opini

Novel ini menurutku sangat pedih dan disturbing, karena penderitaan mereka dijelaskan secara detail. Aku jadi ingat ungkapan nenek buyut di keluargaku, jaman penjajahan Jepang dulu gadis-gadis cantik tidak akan selamat dari perburuan tentara Jepang, sampai-sampai mereka mengoleskan “boreh” sejenis ramuan dari daun-daunan ke wajahnya agar terlihat jelek dan tidak dilirik tentara Jepang untuk diangkut ke rumah bordil. Buku ini wajib kalian baca sebagai salah satu informasi sejarah bahwa nenek moyang kita pernah diperlakukan sebegitu biadabnya tapi tidak pernah menerima permintaan maaf resmi atau kompensasi hingga hari ini.

Rating: 4,7 out of 5 ⭐

“…kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu… Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…”

4. Gadis Kretek

This image has an empty alt attribute; its file name is gadis-kretek.jpg
sumber: goodreads.com

Plot

Gadis Kretek menceritakan keterlibatan perempuan dalam industri rokok kretek yang dulu sempat booming di Indonesia. Adalah Jeng Yah dengan ludahnya yang manis sehingga kretek buatannya terasa enak dibandingkan rokok rumahan lainnya. Jeng Yah adalah anak pengusaha rokok Idroes Moeria, yang bersaing usaha dengan temannya bernama Soejagad. Persaingan dua orang itu terbawa hingga ke anak cucu mereka. Menariknya, di cerita ini terselip kisah cinta yang harus terpisahkan oleh Partai Komunis Indonesia.

Opini

Menurutku keunggulan novel ini terletak pada deksripsi dan percakapan antar tokoh yang budayanya kental. Bedanya dengan novel-novel di atas, tokoh perempuan di novel ini digambarkan sebagai sosok yang berdaya dan memiliki power untuk mendobrak stigma ketidaklaziman di masyarakat melalui keterlibatan perempuan dengan rokok yang identik dengan maskulinitas laki-laki. Sampul cover Gadis Kretek juga cukup mengundang tanda tanya, seorang gadis jawa berkebaya dengan menyelipkan rokok di antara jari-jarinya.

Rating: 4 out of 5 ⭐

Sekali isep, gadis yang Toean impikan muntjul di hadepan Toean.

Itu dia 4 novel dan buku tentang perempuan rekomendasi aku yang bisa dijadikan pertimbangan mengisi waktu luang, apalagi kalau kamu tertarik dengan isu-isu perempuan Indonesia. Menurutku, hingga hari ini, di luar sana banyak perempuan yang masih hidup dalam ketakutan, ketidakberdayaan, bahkan ketidaktahuan. Karya sastra semacam ini hadir sebagai bentuk “suara” mereka yang telah lama terbungkam atau muncul sebagai bentuk men-challenge suatu status quo. Harapannya bukan untuk ujug-ujug meruntuhkan nilai yang sudah pakem, tapi pelan-pelan mengkritisi apakah nilai tersebut relevan dengan apa yang perempuan butuhkan atau rasakan.

Posts created 6

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top