Ronggeng Dukuh Paruk; Lebih dari Sekedar Kisah Cinta

Judul Buku: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: Cetakan ke-10, Maret 2015
Jumlah Halaman: 408 hlm

Sinopsis

Srintil masih berusia dua belas tahun ketika didaulat kampungnya sebagai penerus ronggeng yang menjadi ciri khas Dukuh Paruk. Mereka percaya Srintil telah dirasuki roh indang yang membuat tariannya kenes dan mampu menarik perhatian laki-laki manapun di seluruh penjuru kampung. Ia adalah Rasus, anak laki-laki berusia tiga tahun lebih tua dari Srintil yang merasa kehilangan ketika Srintil dipingit dan dijadikan properti masyarakat Dukuh Paruk. Ada semacam perasaan cemburu di hati Rasus. Selama ini, ia menjadikan Srintil sebagai bayangan sosok emaknya yang telah lama mati karena tragedi keracunan tempe bongkrek di kampungnya belasan tahun silam. Namun hati kecilnya perlahan menolak sosok emak dalam diri Srintil sejak ia menjadi ronggeng dan suka rela dijamah lelaki.

Kekecewaan Rasus kian membesar, lalu ia memutuskan meninggalkan Dukuh Paruk yang telah merebut Srintil dari dunianya. Kepergian Rasus membuat hati Srintil terluka, tak disangka ia telah menaruh hati pada teman kecilnya itu. Di sisi lain, Srintil tak berdaya menolak kewajiban sebagai seorang ronggeng yang tersemat di pundaknya. Semakin hari sosok ronggeng Srintil semakin terkenal, banyak laki-laki yang penasaran akan sosoknya. Kecantikan dan keluwesan Srintil mengangkat derajat Dukuh Paruk yang dikenal miskin dan tidak berpendidikan. Di masa pemberontakan PKI tahun 1965, ketundukan Srintil terhadap leluhur dan kampungnya menjadi petaka yang mengubah jalan hidupnya.

Opini

What a magnificent literature! Pertama, sebagai pembaca buku Pak Tohari untuk pertama kalinya aku sangat-sangat terkesan. Novel bertema budaya dan ada pesan sentimental di dalamnya merupakan salah satu seleraku. Aku suka caranya mendeskripsikan secara detail pemandangan alam di Dukuh Paruk yang seolah nyata, meskipun di beberapa paragraf menurutku terkesan repetitif. Penokohan yang dibangun di novel ini juga sangat kuat, sosok-sosok seperti Srintil, Rasus, Kartareja, Nyai Kartareja, Sakarya, Goder hingga sosok Bajus memiliki kekhasan masing-masing. Pak Tohari menurutku juga piawai menggunakan latar belakang dan konflik yang cukup pelik. Cerita diawali dengan sejarah Dukuh Paruk beserta karakter orang-orang dan tragedi sejarah di dalamnya. Kemudian cerita beralih dengan latar belakang pemberontakan PKI hingga pasca-pemberontakan PKI. Perubahan pada setiap karakter pasca konflik ini terlihat drastis dan membuat cerita semakin menarik.

Kedua, aku percaya novel ini lebih dari sekedar kisah cinta antara Srintil dan Rasus. Ada banyak kritik sosial budaya yang terselip di berbagai percakapan antar tokohnya. Kritik pertama kali diluncurkan dari pemikiran sosok Rasus. Rasus yang yatim piatu dan tidak memiliki harta maupun kuasa, hatinya memberontak sejak malam terjadinya “bukak klambu” dimana keperawanan Srintil disayembarakan dengan dalih menjadi ronggeng sejati; barang siapa bisa membawa sekeping emas, dialah yang berhak tidur dengan Srintil untuk pertama kalinya. Rasus mulai muak dan membenci kekolotan Dukuh Paruk. Sepanjang cerita, sosok Srintil yang manut dengan apapun yang ditakdirkan Nyai Kartareja untuknya mulai berani menunjukkan perasaan tidak segan. Ia memiliki keinginan untuk menjadi istri sekaligus ibu— sesuatu yang mustahil terwujud bagi seorang ronggeng.

Juga aku jadi percaya akan kata-kata yang pernah kudengar bahwa betapapun ronggeng adalah seorang perempuan. Dia mengharapkan seorang kecintaan. Laki-laki yang datang tidak perlu mengeluarkan uang bila dia menjadi kecintaan sang ronggeng.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk

Karakter yang berubah secara drastis secara character development menurutku ada dua: Rasus dan Srintil. Rasus dengan kesempatannya melanglangbuana keluar dari Dukuh Paruk hingga menjadi seorang tentara membentuk karakternya menjadi lebih tegas, open minded, meski tetap berhati lembut. Sedangkan Srintil meskipun perubahannya cukup lambat karena keluguannya, hati kecilnya menolak menjadi ronggeng. Ia mampu menentang tawaran-tawaran meronggeng atau pun sekedar menemani Marsusi dan laki-laki lain yang hendak menyewa jasanya.

Pada akhirnya, Rasus dengan dunianya, Srintil dengan pengorbanan impiannya demi Dukuh Paruk. Kisah cinta mereka tak kunjung menemukan jalan tengah. Menurutku kisah mereka berakhir cukup happy ending meskipun dianggap sad ending bagi beberapa orang. Tapi yang pasti, ending cerita ini merupakan puncak pemberontakan Srintil itu sendiri. Sosoknya menjadi lambang seorang perempuan yang menjadi korban kebebalan atas nama kepercayaan dan kepentingan masyarakat. Sedangkan Rasus yang kembali merupakan simbol keikhlasan dan ketulusan cinta; sesuatu yang tak pernah didapatkan Srintil sepanjang hidupnya dari siapapun kecuali Rasus.

Rating: 4,5 out of 5⭐

Posts created 6

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top