Belajar Petuah Hidup dari Para Setan di Diary Misteri Sara

Diary Misteri Sara merupakan salah satu channel Youtube yang menyajikan tontonan bertemakan misteri dan dibawakan langsung oleh Mbak Sara Wijayanto. Namun berbeda dengan tayangan hantu yang biasa muncul di televisi dengan berburu penampakan makhluk astralnya, Mbak Sara menggunakan dirinya sebagai medium berkomunikasi dengan ‘mereka’.

Beberapa orang menganggap tontonan mistis semacam ini merupakan sarana pembodohan karena nggak masuk di akal dan logika. Boleh percaya boleh tidak, tapi menurut saya tayangan ini justru jadi literasi baru dalam khazanah perhantuan karena Mbak Sara nggak cuma menunjukkan penampakan mereka yang mengerikan, tapi juga mengorek kisah mereka sewaktu masih hidup. 

Sosok-sosok yang pernah ngobrol bareng Mbak Sara ini cukup variatif; ada miss K cantik, sundel bolong serem, genderuwo, poci, hingga hantu Noni Belanda. Pesan yang disampaikan dari setiap sosok ini pun macem-macem, mulai dari percintaan, keluarga, manajemen emosi sampai finansial. Iya mirip webinar-webinar kekinian tapi kali ini narasumbernya para mahluk astral. Bedanya kalau seminar-seminar itu umumnya menceritakan kisah sukses, narasumber dari para setan ini justru menceritakan kegagalan dan penyesalan tentang apa yang ia lakukan ketika masih hidup dulu. 

Ada salah satu episode menarik, di mana bintang tamunya merupakan sepasang hantu ibu dan anak laki-laki yang sering menampakkan diri dan membuat warga sekitar takut. Setelah didatangi tim DMS, hantu anak kecil itu bercerita melalui tubuh Mbak Sara bahwa ia mati dengan cara didorong ke jurang oleh orang tuanya entah karena motif apa, sehingga ia menjadi sosok yang haus kasih sayang dan sering merasa sedih. Kesedihan Dede (nama anak ini) tak berlangsung lama setelah ia bertemu dengan Tante Kun. Tante Kun adalah sosok kuntilanak buruk rupa namun berhati baik yang mengasuh dan melindungi Dede layaknya anak sendiri dari perundungan hantu lain (ternyata di dunia hantu juga ada bullying, gaes). 

Rupanya Tante Kun ini pernah hamil namun keguguran dan membuatnya frustasi, sehingga ia nekat bunuh diri. Tak mendapat kasih sayang orang tua semasa hidup serta lama mendamba seorang anak membuat sosok Dede dan Tante Kun ini klop saling menyayangi meski baru bertemu di alam lain. Yang menyedihkan, ketika Mbak Sara mendoakan mereka berdua untuk kembali ke alam ketenangan, hanya Dede yang bisa pergi. Sedangkan Tante Kun harus tetap tinggal dan mempertanggungjawabkan dirinya karena ia bunuh diri dan melawan takdir. Perpisahan mereka sukses membuat saya mewek sekaligus takjub: hantu aja punya hati nurani ya…. 

Menyoal kasus bunuh diri Tante Kun, ada satu pesan menarik; bunuh diri itu dosa━ kita semua tahu. Tapi buat orang-orang yang merasa sudah mentok nggak sanggup lagi dengan kehidupan keduuniawian bisa jadi semua nasihat masuk kuping kiri keluar kuping kanan alias ramashok, buoss. Barangkali untuk mencegah keinginan ini perlu perspektif baru selain dari sudut pandang moral atau agama, yaitu dari sudut pandang hantu. Bisa dibilang konsepnya mirip jualan olshop, kalo banyak review bintang satu karena pengiriman barang nggak sesuai pesanan dari customer lain, kita jadi ikutan ragu membeli barang di toko tersebut.  

Seruan untuk jangan bunuh diri karena dosa itu cukup abstrak dan sulit dicerna apalagi saat kondisi pikiran sedang kalut. Tapi lewat DMS kita jadi paham lewat testimoni sosok-sosok yang meninggal duluan lewat bunuh diri, bahwa mereka betul-betul tidak diterima dan tidak bisa ‘diproses’ menuju kehidupan baka. Ruhnya terkatung-katung ditolak bumi. Bukannya tenang di alam sana malah terdampar di rumah kosong, berkelana dari satu geng miss K ke geng lainnya, atau jadi memedi di kompleks perumahan. 

Selain soal bunuh diri, ada sosok bernama Siti yang mati penasaran karena disiksa dan dilecehkan. Ia dendam kepada si penyiksa dan menyesal dengan dirinya sendiri yang terlampau takut untuk mencoba melepaskan diri. Sebelum didoakan untuk pulang ke alam baka ia sempat berpesan, “kalau punya mimpi jangan ditunda. Jangan takut walaupun susah. Terus berusaha.” kutipan dari Siti ini sempat viral di Tiktok dan menjadi perbincangan netizen bahwa betapapun sosok hantu bisa memberi petuah yang bermakna.

Mereka memang nggak serta merta tiba-tiba jadi setan inspiratif ala coach bisnis hora umum dalam meraup kekayaan. Bisa jadi mereka adalah jin yang menyerupai atau bahkan gimmick belaka. Namun terlepas dari perdebatan kepercayaan dan skeptisme soal perhantuan ini━ kita tak bisa memungkiri fakta bahwa menggunakan mistisme dan ketakutan sebagai sarana mempengaruhi keputusan satu individu hingga khalayak ini bisa diperhitungkan. Misalnya, di awal penyebaran COVID-19 pertengahan tahun lalu, sebuah desa di Purworejo menggunakan pocong sebagai penjaga pintu keluar masuk kampung untuk menakut-nakuti warga yang nggak patuh aturan karantina. 

Teknik menakut-nakuti atau istilah kerennya fear mongering ini juga digunakan oleh salah satu financial advisor tersohor sebelum tersandung masalah hukum. Yak betul. Masih ingat fear mongering ala Jouska tentang biaya nikah, biaya lahiran, hingga biaya sekolah anak dan tetek bengek lainnya yang jika ditotal membuat sobat misqueen can’t relate itu? Jouska menjual ketakutan finansial yang kemudian mendorong kaum menengah ke atas berbondong-bondong menggunakan jasa mereka, meskipun endingnya para klien itu malah ditipu dan uangnya dipake buat beli saham gorengan. 

Selain fear mongering dari pengalaman para setan itu, Mbak Sara sendiri juga sering bilang jangan sampai kita berlarut-larut ke emosi negatif, karena bisa jadi akan mengundang energi negatif yang menjerumuskan kita ke hal-hal buruk pula. Persis seperti petuah mbah-mbah yang dipercaya sebagian besar orang Jawa ini: jangan banyak ngelamun nanti kesambet!

Sesungguhnya dari pesan moral yang disampaikan oleh sosok-sosok setan di episode DMS ini membuat saya bertanya-tanya, beberapa dari mereka buruk rupa serta bentuknya serem naudzubillah tapi kok ya masih bisa menyebarkan positives vibes dan petuah penuh hikmah buat manusia. Sedang manusia itu sendiri diliat-liat malah teganya memerkosa anak di bawah umur, membunuh ibu kandung karena nggak dikasih uang, atau bahkan korupsi dana bansos, seperti yang sering berseliweran di kabar berita. Jika begini bisa dibilang dari setan-setan itu kita belajar, kadang manusia memang lebih setan dari setan itu sendiri. 

Posts created 6

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top